BTN Optimistis Hadapi Tahun Kuda Api, Perkuat Wealth Management dan Ekosistem Investasi Nasabah

BTN Optimistis Hadapi Tahun Kuda Api, Perkuat Wealth Management dan Ekosistem Investasi Nasabah
Direktur Network & Retail Funding PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Rully Setiawan (kedua kiri), Wealth Management Division Head BTN Frengky Rosadrian P (kiri), Nasabah BTN Prioritas KC Pontianak Benny Panjaya (tengah), Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto (kedua kanan), dan Regional Head Kantor Wilayah Kalimantan Waluyo (kanan) secara simbolis melakukan pemukulan tambur dalam kegiatan Economic Outlook & Chinese New Year 2026

BLOKBERITA.COM – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menggelar rangkaian forum eksklusif Economic Outlook & Chinese New Year 2026 bagi nasabah BTN Prioritas dan BTN Private di tujuh kota besar di Indonesia. Mengusung tema “The Fire Horse Economy: Investing with Purpose, Building Legacy”, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan strategis mengenai peluang investasi serta arah perekonomian di tahun yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api.

Forum tersebut diselenggarakan di Jakarta, Surabaya, Pontianak, Pekanbaru, Semarang, Makassar, dan Medan, dengan menghadirkan berbagai pakar ekonomi, investasi, serta tokoh inspiratif. BTN berharap kegiatan ini dapat membantu nasabah merancang strategi pengelolaan kekayaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Dalam acara yang digelar di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (23/2/2026), Wakil Direktur Utama BTN Oni Febriarto Rahardjo menegaskan bahwa BTN terus melakukan transformasi untuk menjadi bank dengan layanan finansial yang semakin lengkap.

“Kalau mau menjadi bank yang lengkap, kami harus bisa menghadirkan produk dan layanan yang setara dengan bank-bank lain. Produk dan layanan itu akan terus kami kembangkan, tentu dengan kualitas terbaik,” ujar Oni.

Transformasi tersebut didukung oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. BTN mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun, meningkat 16,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, total aset mencapai Rp527,8 triliun atau tumbuh 12,4 persen YoY, dengan penyaluran kredit meningkat 11,9 persen menjadi Rp400,6 triliun.

Menurut Oni, capaian tersebut menjadi modal penting bagi BTN untuk memasuki 2026 dengan optimisme. Dalam rencana bisnis tahun ini, BTN menargetkan laba bersih menembus Rp4 triliun.

“Ke depan akan kami tingkatkan lagi. Kami ingin mengoptimalkan momentum ini untuk pertumbuhan dan profit yang berkelanjutan,” katanya.

Dari sisi makroekonomi, Oni menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,2 hingga 5,6 persen membuka peluang besar bagi sektor bisnis dan investasi. Namun, ia mengingatkan bahwa investasi harus dilakukan dengan perencanaan matang.

“Investasi tidak boleh sekadar menempatkan dana tanpa perencanaan. Pengelolaan kekayaan bukan hanya soal angka, tetapi juga menyangkut visi jangka panjang dan keberlanjutan lintas generasi,” jelasnya.

Karena itu, BTN berkomitmen menghadirkan solusi investasi yang komprehensif, layanan eksklusif, serta pendampingan personal bagi nasabah. Oni menegaskan pentingnya memilih sektor yang memiliki prospek kuat sebelum menempatkan dana.

“Bukan asal punya uang lalu ditaruh di deposito atau instrumen lain. Harus tahu sektor mana yang prospektif dan menguntungkan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan menjelaskan bahwa penguatan layanan wealth management menjadi bagian dari strategi transformasi BTN menuju konsep beyond mortgage, yaitu memperluas peran bank tidak hanya pada pembiayaan perumahan.

Segmentasi layanan BTN dibagi dalam beberapa kategori, yakni Prospera dengan saldo mulai Rp300 juta, Prioritas minimal Rp500 juta, dan Private Banking dengan dana di atas Rp15 miliar.

Saat ini, jumlah nasabah wealth management BTN mencapai sekitar 35 ribu nasabah secara nasional dengan Asset Under Management (AUM) sekitar Rp20 triliun, tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan. Selain itu, fee based income (FBI) dari bisnis wealth management meningkat 60 persen YoY per Desember 2025.

“Akusisi terhadap nasabah baru kami jaga dengan target secara leveling. Dari mulai Prospera kami tingkatkan menjadi Prioritas, kemudian nasabah Prioritas kami dorong menjadi Private Banking,” kata Rully.

BTN juga mempercepat strategi beyond mortgage dengan menghadirkan berbagai produk seperti kartu kredit, kredit kendaraan bermotor (KKB), serta layanan buy now pay later (BNPL) yang terintegrasi dalam aplikasi Bale by BTN.

Selain fokus pada nasabah segmen atas, BTN juga mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit modal kerja. Seiring perkembangan usaha, pelaku UMKM berpotensi naik kelas menjadi nasabah Prospera hingga Private Banking.

“Pendekatan terintegrasi ini menegaskan posisi BTN sebagai mitra finansial jangka panjang yang tidak hanya menyediakan solusi keuangan, tetapi juga mendampingi pertumbuhan nasabah,” ujar Rully.

Dalam forum tersebut, nasabah juga memperoleh analisis ekonomi dari Filbert Anson, Head of Research PT Trimegah Asset Management. Ia menyoroti kondisi geopolitik global, dinamika suku bunga, hingga strategi alokasi aset di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Untuk obligasi, kami memilih bond dengan durasi panjang dan obligasi korporasi yang volatilitasnya lebih rendah. Untuk saham, peluang trading masih ada di sektor komoditas seperti emas serta beberapa saham perbankan besar yang valuasinya menarik,” kata Filbert.

Selain perspektif ekonomi, acara ini juga menghadirkan Suhu Hak Hiong, Master Feng Shui, yang memaparkan karakter Tahun Kuda Api sebagai simbol energi, percepatan, dan transformasi.

“Menurut saya, sektor yang paling berpotensi cuan tahun ini adalah industri kreatif, teknologi, dan energi,” ujarnya.

Melalui rangkaian diskusi tersebut, BTN berharap para nasabah dapat memasuki tahun 2026 dengan strategi investasi yang lebih matang, adaptif, dan selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang.(**)

Exit mobile version