BLOKBERITA.COM – Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara, Iskandar ST, memilih jalur konfrontasi terbuka saat menanggapi laporan utama majalah Tempo. Bukannya mematahkan isi laporan dengan data dan fakta, Iskandar justru tampil dengan retorika keras yang sarat emosi bahkan berujung ancaman, Selasa (14/4/26) di depan kantor DPW NasDem Sumut.
Di depan ratusan kader, ia mempersoalkan ilustrasi sampul yang menampilkan Ketua Umum Surya Paloh. Ia menyebutnya merendahkan martabat. Namun, dalam tradisi jurnalistik, ilustrasi editorial adalah bagian sah dari kritik terhadap tokoh publik bukan serangan personal seperti yang didramatisasi.
Yang lebih problematik, Iskandar melabeli laporan Tempo sebagai “halusinasi” dan “berita sampah”, tanpa sekalipun mengurai poin mana yang keliru, data apa yang salah, atau fakta apa yang perlu diluruskan. Tidak ada bantahan berbasis bukti yang ada hanya penolakan total.
Alih-alih mengedepankan klarifikasi, Iskandar justru mengeluarkan ultimatum: tiga kali 24 jam bagi Tempo untuk mencabut, meralat, dan meminta maaf. Jika tidak, ancaman langkah hukum dan aksi lanjutan dilontarkan tanpa ragu. Pola ini mencerminkan pendekatan represif menekan, bukan menjawab.
Sikap tersebut memunculkan kesan kuat bahwa kritik dianggap sebagai ancaman yang harus dibungkam, bukan diuji secara terbuka. Padahal, sebagai pilar demokrasi, pers justru berfungsi mengawasi kekuasaan termasuk partai politik dan elitnya.
Di tengah kecaman itu, Iskandar juga menyelipkan pernyataan bahwa Prananda Surya Paloh adalah sosok yang pantas menggantikan Surya Paloh. Pernyataan ini membuka spekulasi baru, apakah kemarahan terhadap Tempo murni soal pemberitaan, atau terkait kegelisahan internal yang coba ditutup dengan serangan ke luar.
Publik berhak bertanya, jika laporan Tempo memang keliru, mengapa tidak dibantah dengan data, Mengapa yang muncul justru ancaman dan tenggat waktu.
Dalam demokrasi yang sehat, kebenaran diuji dengan fakta bukan ditekan dengan ultimatum. Sikap Iskandar justru memperlihatkan satu hal, ketika kritik tak mampu dijawab, tekanan seringkali menjadi jalan pintas.(RS)












