BLOKBERITA.COM — Ketua Permabudhi Sumatera Utara yang juga Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B., menghadiri Festival Mid-Autumn 2026 yang diselenggarakan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) di Centre Point Medan lantai 3, Minggu (11/10/2026).
Festival yang dikenal sebagai Mooncake Festival atau Festival Kue Bulan tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat persatuan di tengah keberagaman tradisi umat Buddha.
Dalam sambutannya, Wong Chun Sen menyampaikan bahwa perayaan Mooncake Festival dan Festival Mid-Autumn 2026 memiliki makna yang saling berkaitan. Keduanya tidak hanya menjadi bagian dari tradisi budaya, tetapi juga mengandung pesan tentang persatuan, keutuhan, dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama.
“Hari ini kita berkumpul dalam dua hal yang menyatu dalam satu semangat, yakni Mooncake Festival dan Festival Mid-Autumn 2026,” ujarnya.
Wong menjelaskan, Festival Mid-Autumn merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut. Bulan purnama menjadi simbol utama yang memberikan makna mendalam bagi masyarakat yang merayakannya.
Menurutnya, bulan purnama mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, terutama mengenai kebulatan tekad, keutuhan, dan kebersamaan. Dalam tradisi Festival Mid-Autumn, bulan purnama juga menjadi lambang berkumpulnya keluarga, ketika mereka yang berjauhan berusaha kembali untuk bertemu dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga perbedaan tidak menjadi penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis.
“Seperti kue bulan yang berbentuk utuh, semoga kita juga dapat hidup tanpa sekat, tanpa jarak, dan tanpa prasangka. Kita harus mampu menjaga persaudaraan meskipun berasal dari latar belakang dan tradisi yang berbeda,” ungkapnya.
Selain melambangkan keutuhan, Wong menyebut bulan purnama juga menjadi simbol penerangan. Cahaya bulan tidak membakar dan tidak menyilaukan, tetapi hadir dengan suasana yang menyejukkan.
Filosofi tersebut, menurutnya, dapat menjadi pengingat bagi setiap orang agar mampu menghadirkan kedamaian, memberikan manfaat bagi sesama, serta menjaga sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, semangat tersebut relevan dalam membangun masyarakat yang rukun dan harmonis, khususnya di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan pandangan yang ada di Indonesia.
Wong juga mengaitkan makna bulan purnama dengan sejarah Buddha Dhamma. Dalam tradisi Buddhis, sejumlah hari suci diperingati berdasarkan fase bulan purnama, sehingga memiliki arti penting dalam kehidupan spiritual umat Buddha.
Karena itu, ia mengajak umat Buddha untuk tidak hanya memaknai perayaan sebagai kegiatan budaya dan pertemuan sosial, tetapi juga menjadikannya kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, meningkatkan kepedulian, serta menumbuhkan perilaku yang membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, Wong menegaskan bahwa Permabudhi Sumatera Utara menjadi wadah berhimpunnya berbagai majelis dan organisasi Buddhis dengan latar belakang serta tradisi yang beragam.
Keberagaman tersebut, katanya, merupakan kekayaan yang perlu dijaga melalui semangat saling menghormati dan bekerja sama. Setiap majelis dan organisasi memiliki karakteristik masing-masing, tetapi seluruhnya dapat dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni memberikan kontribusi positif bagi umat dan masyarakat.
“Di bawah naungan Permabudhi, berhimpun banyak majelis dan organisasi Buddhis dengan beragam tradisi. Kita tidak mencari siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling bermanfaat,” tegas Wong.
Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam membangun kebersamaan antarorganisasi Buddhis. Menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya jumlah anggota atau luasnya kegiatan, melainkan juga oleh manfaat nyata yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Melalui Festival Mid-Autumn 2026, Wong berharap semangat persatuan, kepedulian, dan kebersamaan terus tumbuh di tengah umat Buddha Sumatera Utara. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam menciptakan kehidupan yang damai, harmonis, dan saling mendukung.
Perayaan ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan kebersamaan bagi para peserta, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menjaga persaudaraan serta menebarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.(RS)












