Ragam  

Renungan Jumat Agung : Yesus Mati Bukan Karena Kalah, Tetapi Untuk Genapi Rencana Allah

Renungan Jumat Agung : Yesus Mati Bukan Karena Kalah, Tetapi Untuk Genapi Rencana Allah
Pdm. Dr. RAMSES SIMANULLANG, SE., M.Si

BLOKBERITA.COM – Di bawah bayang-bayang salib, kita diajak merenungkan sebuah misteri kasih yang tak terselami. Yesus Kristus tidak mati karena kelemahan, bukan pula karena dikalahkan oleh kuasa dunia. Ia menyerahkan nyawa-Nya dengan penuh kesadaran dan ketaatan kepada kehendak Bapa. Sebagaimana firman-Nya:

“Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:18)

Dan saat waktunya genap, Ia berseru dengan suara nyaring, lalu menyerahkan nyawa-Nya (Matius 27:50). Di momen itu, langit dan bumi menjadi saksi kasih yang sempurna—kasih yang rela berkorban demi keselamatan manusia.

Makna Kematian Kristus

Kematian Kristus adalah pernyataan kasih Allah yang paling agung. Di dalamnya, kita melihat betapa berharganya manusia di mata-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…” (Yohanes 3:16). Bahkan ketika manusia masih berdosa, Kristus telah mati bagi kita (Roma 5:8). Salib bukanlah simbol kekalahan, melainkan kemenangan ilahi—kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan.

Lebih dari itu, melalui kematian-Nya, tembok pemisah antara Allah dan manusia diruntuhkan. Kita yang dahulu jauh, kini diperdamaikan dengan Allah (Efesus 2:14-16). Salib menjadi jembatan kasih yang memulihkan hubungan yang telah rusak.

Dampak bagi Orang Percaya

Bagi setiap orang yang percaya, kematian Kristus membawa pembaruan hidup. Di dalam darah-Nya, kita menerima pengampunan dan penyucian (Efesus 1:7). Hidup yang lama berlalu, dan kita dipanggil untuk hidup dalam terang kasih-Nya.

Kematian-Nya juga membuka jalan menuju kehidupan kekal. Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24), demikian pula pengorbanan Kristus melahirkan harapan yang hidup bagi umat-Nya.

Tidak hanya itu, ketakutan akan maut tidak lagi menguasai hati orang percaya. Dalam Kristus, kita dibebaskan dari belenggu ketakutan, karena maut telah dikalahkan (Ibrani 2:14-15).

Penutup

Jumat Agung mengajarkan kita tentang kasih yang berkorban, ketaatan yang sempurna, dan pengharapan yang tidak tergoyahkan. Kiranya setiap hati yang merenungkan salib dipenuhi dengan rasa syukur, iman yang diteguhkan, dan hidup yang semakin berkenan di hadapan-Nya.

Salam Kebangkitan Kristus
Pdm. Dr. RAMSES SIMANULLANG, SE., M.Si.
(GPIA GMB Bersinar / Wakil Ketua KPID Prov. Sumut)

Baca berita terkini di Blokberita.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *