BLOKBERITA.COM — Aksi damai yang digelar mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Mantan aktivis mahasiswa, Zainuddin Lubis, menilai demonstrasi tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi ekonomi bangsa yang saat ini dirasakan semakin berat oleh masyarakat.
Menurut Zainuddin, aksi yang dilakukan mahasiswa tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kegiatan demonstrasi biasa. Ia menilai gerakan tersebut lahir dari keresahan yang berkembang di tengah masyarakat akibat berbagai persoalan ekonomi yang belum kunjung teratasi.
“Mahasiswa menyampaikan aspirasi yang lahir dari keresahan masyarakat. Ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini,” ujar Zainuddin, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini memberikan tekanan yang cukup besar bagi masyarakat. Melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok, serta kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai berdampak langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi alasan kuat bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi dan kritik kepada pemerintah. Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa memiliki peran penting dalam menyampaikan suara publik ketika masyarakat menghadapi berbagai kesulitan.
Zainuddin menilai pemerintah saat ini terkesan lebih fokus menjalankan berbagai program prioritas yang dimiliki masing-masing kementerian dan lembaga. Namun, di sisi lain, masih banyak persoalan mendasar yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan perhatian dan penyelesaian segera.
Ia juga menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dalam beberapa waktu terakhir memunculkan perdebatan di ruang publik. Kebijakan perpajakan, imbauan penghematan kepada masyarakat di tengah munculnya isu pemborosan anggaran, hingga berbagai kebijakan lainnya dinilai telah menimbulkan kebingungan dan pertanyaan di kalangan masyarakat.
“Hari ini masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah yang mampu memberikan solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi,” katanya.
Lebih lanjut, Zainuddin menyebut aksi yang digelar BEM UI bersama mahasiswa dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi refleksi dari kondisi sosial yang berkembang saat ini. Menurutnya, demonstrasi tersebut bukan hanya mewakili kepentingan mahasiswa, tetapi juga menggambarkan aspirasi sebagian masyarakat yang menginginkan perubahan kebijakan.
Ia menilai apabila tuntutan yang disampaikan mahasiswa tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, bukan tidak mungkin gelombang aksi serupa akan meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Mahasiswa dari sejumlah kampus lain berpotensi ikut menyuarakan tuntutan yang sama apabila persoalan yang menjadi perhatian publik tidak segera mendapatkan respons.
“Gerakan mahasiswa selama ini selalu menjadi indikator adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian. Ketika mahasiswa turun ke jalan, itu menandakan ada keresahan yang perlu didengar,” ujarnya.
Dalam aksi yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, para mahasiswa membawa lima tuntutan utama kepada pemerintah. Tuntutan tersebut meliputi penghentian pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian praktik militerisme di ranah sipil, serta desakan agar pemerintah mengakui kesalahan dan tidak menghindari kritik publik.
Aksi berlangsung secara damai dengan pengawalan aparat keamanan. Para peserta aksi menyampaikan orasi secara bergantian sambil membawa berbagai spanduk dan poster yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Sejumlah pihak menilai demonstrasi tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Penyampaian pendapat di muka umum dijamin oleh konstitusi dan menjadi salah satu sarana bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi bangsa, suara mahasiswa dinilai tetap memiliki posisi penting sebagai pengingat bagi para pemangku kebijakan agar senantiasa memperhatikan kepentingan rakyat. Pemerintah pun diharapkan dapat merespons berbagai aspirasi yang berkembang secara bijaksana dan terbuka demi menjaga kepercayaan publik serta menciptakan solusi yang berpihak kepada masyarakat luas.(RS)












