Wong Chun Sen Ajak Umat Buddha Amalkan Dharma dalam Kehidupan Sehari-hari pada Perayaan Waisak di Vihara PJM

BLOKBERITA.COM – Permabudhi bersama Walubi melaksanakan perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 di Vihara Prasadha Jinadhammo Mahathera (PJM), Medan, Minggu (14/6/2026).

Ketua DPRD Kota Medan yang juga Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sumatera Utara, Drs. Wong Chun Sen Tarigan Mpd.B, dalam kesempatan tersebut mengajak umat Buddha menjadikan perayaan Waisak sebagai momentum untuk memperdalam pemahaman serta mengamalkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, peringatan Tri Suci Waisak tidak hanya sebatas seremonial keagamaan, tetapi juga sarana refleksi untuk meningkatkan kualitas moral dan spiritual.

Dalam sambutannya, Wong menjelaskan bahwa peringatan Tri Suci Waisak merupakan penghormatan terhadap tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gotama yang menjadi landasan ajaran umat Buddha di seluruh dunia.

“Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama. Pertama adalah kelahiran Pangeran Siddhatta di Taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi. Kedua, pencapaian Penerangan Sempurna oleh Petapa Gotama yang kemudian menjadi Buddha. Ketiga, Mahaparinibbana Buddha Gotama pada tahun 543 Sebelum Masehi,” ujar Wong.

Ia menegaskan, ketiga peristiwa tersebut tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari sejarah agama Buddha, tetapi harus ditanamkan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari melalui pengamalan Dharma.

Menurut Wong, ajaran Dharma memberikan bimbingan kepada umat untuk mengembangkan moralitas, kebijaksanaan, serta kemampuan membedakan antara perbuatan yang membawa manfaat dan tindakan yang dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Ajaran Dharma membimbing kita untuk terus mengembangkan sila atau moralitas, kebijaksanaan, serta kemampuan memahami mana yang membawa manfaat dan mana yang dapat menimbulkan penderitaan. Nilai-nilai ini sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Selain itu, Wong juga menyoroti pentingnya nilai metta atau cinta kasih universal yang menjadi salah satu inti ajaran Buddha. Menurutnya, metta mengajarkan persahabatan, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara harmonis tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras maupun golongan.

“Metta mengajarkan kita untuk membangun persahabatan, menghormati sesama, dan hidup harmonis tanpa membedakan suku, agama maupun golongan. Nilai ini sangat relevan dalam menjaga persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat yang beragam,” ungkapnya.

Wong menilai semangat toleransi dan kebersamaan yang diajarkan dalam agama Buddha memiliki peran penting dalam memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat Kota Medan yang multikultural. Karena itu, ia berharap umat Buddha dapat menjadi teladan dalam menjaga kedamaian, kerukunan, dan persatuan.

Pada kesempatan tersebut, Wong juga mengajak seluruh umat Buddha untuk memaknai Perayaan Vesakha 2026 sebagai momentum introspeksi diri dan penguatan komitmen dalam menjalankan ajaran Buddha secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Perayaan Vesakha 2026 hendaknya menjadikan Waisak bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk menghayati, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Perayaan Waisak di Vihara Prasadha Jinadhammo Mahathera berlangsung khidmat dan diikuti ratusan umat Buddha. Berbagai rangkaian kegiatan keagamaan dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Tri Suci Waisak sekaligus sarana mempererat persaudaraan antarumat.

Melalui peringatan Waisak tahun ini, diharapkan semangat cinta kasih, kebijaksanaan, dan kedamaian yang diajarkan Buddha dapat terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis, saling menghormati, dan penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa Indonesia.(RS)

Exit mobile version