Wong Chun Sen: Gotong Royong Adalah Nyawa Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat

BLOKBERITA.COM — Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen Tarigan menegaskan semangat gotong royong merupakan bagian penting dari pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, budaya saling membantu dan bekerja bersama menjadi salah satu kekuatan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan.

Hal itu disampaikan Wong saat menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Willem Iskandar, Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Camat Medan Perjuangan Affan Harahap, perwakilan Kelurahan Indra Kasih Amaluddin Harahap, perwakilan Kesbangpol Pemko Medan Donald, serta ratusan peserta Wawasan Kebangsaan.

Dalam arahannya, Wong mengatakan semangat gotong royong harus terus dipelihara karena persoalan yang dihadapi masyarakat tidak selalu dapat diselesaikan secara individu. Menurut dia, diperlukan kepedulian dan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, serta berbagai unsur di lingkungan masing-masing.

“Untuk kesejahteraan masyarakat, pemerintah juga memberikan berbagai bantuan kepada masyarakat. Karena kita sebagai masyarakat yang membayar pajak, tentunya pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan dan membantu masyarakat,” kata Wong.

Dia mengingatkan masyarakat agar tidak merasa dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendiri. Sikap saling membutuhkan, menurutnya, merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus dijaga.

“Hal-hal seperti ini sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus ingat, tidak boleh sombong karena kita juga membutuhkan bantuan orang lain,” ujarnya.

Wong mencontohkan keberadaan organisasi sosial seperti Serikat Tolong Menolong (STM) yang menjadi salah satu wadah masyarakat dalam membantu warga ketika mengalami musibah atau membutuhkan pertolongan.

Menurutnya, semangat kebersamaan juga harus diwujudkan melalui koordinasi antara masyarakat dengan perangkat pemerintahan mulai dari tingkat lingkungan, kelurahan, kecamatan hingga DPRD.

“Di Kota Medan ada 21 kecamatan, 151 kelurahan, dan ribuan lingkungan. Semuanya bergotong royong bersama DPRD dan perangkat pemerintahan untuk mensejahterakan masyarakat Kota Medan,” katanya.

Wong juga menjelaskan, kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat menjadi salah satu sarana untuk mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi warga. Setiap permasalahan, kata dia, dapat dikoordinasikan dengan perangkat daerah sesuai bidangnya.

“Kalau ada masalah kesehatan, ada Dinas Kesehatan. Kalau masalah pendidikan, ada Dinas Pendidikan. Begitu juga dengan persoalan pangan dan lainnya. Semua perangkat itu digunakan untuk membantu masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wong juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi perkembangan anak, termasuk mengetahui aktivitas dan berbagai pengaruh yang dapat membentuk perilaku anak.

Ia berharap komunikasi antara orang tua dan anak terus dibangun sehingga anak memiliki ruang untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan.

Usai kegiatan, Wong kembali menegaskan bahwa gotong royong tidak dapat dipisahkan dari nilai Pancasila, terutama sila ketiga tentang Persatuan Indonesia dan sila kelima mengenai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ini sangat penting bagi bangsa Indonesia supaya masyarakat memahami arti dan makna sesungguhnya dari Pancasila,” katanya.

Wong bahkan menyebut gotong royong sebagai “nyawa” Pancasila karena budaya tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu.

“Gotong royong adalah nyawanya Pancasila, karena Indonesia adalah bangsa yang hidup bergotong royong,” ujarnya.

Menurut Wong, pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teori. Nilai gotong royong harus diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan pendidikan maupun masyarakat.

“Gotong royong ini dapat dilaksanakan dan dipedomani dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam rumah tangga, di sekolah, maupun di tengah masyarakat,” katanya.

Ia berharap masyarakat dapat terus hidup berdampingan, saling membantu dan tidak memperbesar perbedaan. Dengan demikian, semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Harapan kita kepada masyarakat, setelah memahami arti gotong royong ini, mereka dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya dan selalu hidup bergotong royong, berdampingan, tidak ada perbedaan. Sehingga Bhinneka Tunggal Ika kita dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Wong.(RS)

Exit mobile version